Cerpen : Memasak
-
duduk bersama Ibu di depan teras , dibawah pohon mangga dengan bangku kayu ku sejak kecil , tentu saja malam hari selepas isya , adalah hal paling menarik tahun-tahun belakang. Semenjak kuliah dan bekerja sehingga hanya memiliki waktu-waktu yang lebih sedikit bersama beliau
-
dulu disini adanya ibu bercerita tentang dongeng , segala benda bisa dia hidupkan dalam cerita , tapi kali ini adalah giliranku bercerita. Malam dimana ibu akan memberikan keputusan penting terhadap anak semata wayangnya.
-
Ibu : jadi , siapakah dia , Nak ? perempuan yang bakal jadi menantu ibu itu ?
-
Aku : hmmmm dia teman saya Bu, lebih muda 3 tahun dari saya , kenal waktu masih kuliah
-
Ibu : kapan kamu mau kenalkan sama Ibu ?
-
Aku : minggu depan mau Bu , ibu ada acara tidak ? kita pergi ke rumahnya ?
-
Ibu : hahahaaa ibumu kan sudah pensiun , masa ada acara sok sibuk
-
Pembicaraan ini sempat terhenti tanpa ada apa-apa selama 2 menit , Ibu diam memperhatikan
-
Ibu : kau kenapa , Nak ? apa yang kau pikirkan ?
-
Aku : ah ibu , aku hanya takut ibu tidak setuju dengan pilihanku ini
-
Ibu : kenapa kau berprasangka seperti itu , Nak ? apa yang terbaik dan menurutmu baik , ibu pasti setuju
-
Aku : hmmmm . . . dia baik bu,insyaAllah baik , rajin dan bersahaja , tapi satu yang mungkin mengganjal untuk Ibu , dia belum bisa masak Bu
-
Ibu memasang muka masam , hanya sebentar , aku tertunduk , teringat sekali dulu ibu bilang bahwa Ibu ingin seseorang yang pintar memasak , paling tidak seperti ibu , ibu pandai sekali memasak. Katanya masakan itu bisa bikin seseorang tambah cinta.
-
Lantas Ibu berbicara
-
Ibu : hahaaa tidak apa-apa , Nak.
-
Aku : sungguh Bu , bukankah dulu ibu ingin perempuan yang pintar memasak sebagai salah satu syaratnya ?
-
Ibu : nanti ibu yang akan mengajarinya , ibu yang akan menggemblengnya , kau tenang saja , paling dalam waktu 40hari , dia sudah jadi koki hebat seperti ibu , hahaha
-
Ibu tertawa sejenak , aku lega
-
Ibu : Nak , berutunglah
-
Aku : beruntung untuk apa ibu ?
-
Ibu : karena calonmu itubelum bisa masak , kelak , masakan istrimu itu , kau menjadi laki-laki pertama yang mencicipi masakannya , setidak enak apapun , kau pasti akan tersentuh ketika dia berusaha keras untuk memasak makanan itu untukmu . Kau adalah laki-laki yang beruntung
-
Aku : hahaha Ibu bisa saja , terima kasih Ibu . .
-
Lagi , pembicaraan ini berlanjut hingga menjelang larut , bukan lagi tentang rencana untuk pergi ke rumahnya ,tapi tentang masa kecil dan masa lalu , ketika ayah masih ada , dan ketika saya masih anak-anak.
-
-----------------------------------------------------------------------
-
Bandung , 14 Desember 2011
-
pukul 00.01
-
Kurniawan Gunadi






